Teknologi, seperti dua lempeng uang logam yang saling bersinggungan, selalu ada pilihan dalam kehidupan, diantara dua sisi baik dan buruk yang menjadi tawaran. Wow, kenapa demikian? Bukankah baik kemajuan teknologi yang ada sekarang ini? Dengan memahami teknologi tak berarti gagap komunikasi tentu saja.

Teman, masihkah kamu ingat saat berapa tahun lalu dengan ramah kita saling menyapa? Menghabiskan masa kecil dengan bercerita, bermain, dan bersenda ria? Jikapun ada hal yang membuat kita terpisah karena mungkin tindakan atau ucapan yang salah, disitu pula terdapat pengalaman indah yang mendidik kita untuk dewasa, toleransi, saling menghormati, dan menghargai, setelahnya dengan berbesar hati dan salaing memaafkan kita bermain lagi bersama kembali. Indah bukan?

Saat ini, mulai dari anak-anak sampai dewasa sibuk sendiri berteknologi, memang bukan merupakan suatu yang salah, namun kebebasan dan kemajuan teknologi yang disalah artikan memisahkan kita, kita laksama jiwa yang menggagu, meski bersinggungan di jalan, lift, eskalator, dan lainnya saat ini kebanyakan kita asik tersenyum dan tertawa sendiri dengan teknologi, melalui handphone sampai penemuan teknologi terbaru dan tercanggih yang menjadi obrolan pasar dan incaran, merelakan sebagian rupiah untuk memiliki yang diidamkan.

Dahsyatnya luar biasa ya teman, dari situ kita seakan merasa hidup sendiri, semua bahagia kebersamaan yang kita miliki berkurang, bahkan batita, balita, dan anak-anak kini di asuh oleh teknologi dengan beragam perangkat elektronik canggih yang dipergunakan sejak dini. Salah satu dampaknya membuat mereka cenderung pasif, egois, dan tidak mengenal permainan kaya manfaat dan rasa yang secara sadar atau tidak sadar telah mengajarkan kita arti kebersamaan yang hingga kini masih aku kenang.

Teman, aku rindu saat itu, saat dimana terluangkan waktu untuk menghapus jemu, disaat rasa kebersamaan masih menghiasi hari-hari kita, suka dan duka bersama, sederhana, apa adanya, tidak mengada-ada, dan tidak diada-adakan. Bagaimana denganmu, apakah juga merindukan saat itu?

Ilustrasi Teknologi Tak Berarti Gagap Komunikasi
Ilustrasi Teknologi Tak Berarti Gagap Komunikasi

Tentang generasi muda, aku terkadang membayangkan, masa lampau saat orang-orang dididik dengan cinta dan kasih sayang melalui kebersamaan saja, saat dewasa langkahnya bisa gontai, lunglai, dan tak jarang merepih, sendiri.

Lalu tentang generasi kini, bagaimana kelak kedepan? Sedang tak jarang orang tua, kakak, dan keluarga mereka sibuk berteknologi ria dengan alat-alat canggih pilihannya, dan terkadang pilihannya juga memberikan teknologi kepada generasi kini, tanpa lebih dalam dipahami baik buruk dan akibatnya, terutama bagi psikologis dan komunikasinya, tentang belajar bahasa dan bicara, serta berbagi pada sesama, teknologi sungguh luar biasa maknamu, dari dua sisi yang selalu menyertaimu.

Anda tentu ingat kecelakaan mobil yang dialami putra musisi terkenal, hal itu tentu salah satu dampak bahwa kebebasan serta psikologis yang terjadi pra-kecelakaan telah tersisip era modern. Akhirnya, jelang penyelesaian ke meja hijau, kembali dampak psikologis dari dirinya yang tetap harus dijaga.

Tak  jarang akses bebas yang kebablasan justru merusak generasi, tayangan-tayangan yang seringnya tidak lagi menggunakan batasan umur dan siapapun dapat mengakses, membuat banyak dari mereka menjadi dewasa sebelum waktunya, dan sebenarnya amat sangan diperlukan pengawasan dan pengarahan dari orang tua di dalamnya, namun seringkali lagi-lagi teknologi membuat jarak terpisah, yang jauh menjadi dekat, yang dekat menjadi jauh.

Sosial media berbasis teknologi pun begitu bebas dipasaran, menjamur dan begitu banyak pilihan, lagi-lagi trend teknologi menebas batasan umur, menjadi ajang gaya, pamer, bahkan tak jarang saling sahut menyahut dengan kata-kata kasar di social media yang dapat tenar karena dapat saja dibaca oleh nasional.

Akhirnya, menjadikan kerenggangan bukan kebersamaan, menjadikan permusuhan bukan persahabatan, menjadikan kehidupan dewasa ini bak pribahasa ternama, “Gajah dipelupuk mata tak nampak, sedang semut diseberang lautan tampak.”

Padahal segala kebaikan dan kemodernan yang tercipta, tentunya juga bermaksud mencerdaskan dan membawa dampak positif dalam kehidupan kita, dengan pemikiran yang lebih bijak, matang dan dewasa, dan memanfaatkannya dengan porsi yang pas dan dalam konteks yang tepat, tidak kurang dan tidak lebih dalam penerapannya.

Bagi orang tua, ada baiknya tidak terlena pada kemajuan teknologi yang ada, dan melupakan hakikat bahwa anak-anak pun memerlukan komunikasi nyata, sebagai bekalnya kedepan, dalam berbicara, berpikir, bertenggang rasa, memahami sesama, untuk dirinya, bangsa, agama, dan keluarganya, segala sisi positif bagi kehidupan yang ada, selalu terdapat hak dan kewajiban serta tanggung jawab di dalamnya.

Maka, tidak ada yang salah dengan kemajuan teknologi, tinggal pembenahan pada diri kita dan generasi saja yang mempersiapkan, dan mempelajari dengan pas akan segala aspek di dalamnya, sebab pada dasarnya kita merupakan makhluk social yang hidup bermasyarakat dan saling memerlukan dan membutuhkan satu sama lainnya, maka sudah sepantasnyalah kita pun tidak melupakan sekeliling kita, dan melestarikan budaya kita yang terkenal di seluruh dunia dengan menjadi negeri yang ramah dan bersahabat, baik bagi warga Negara dan tamu dari Negara lain yang berkunjung dan mengagumi ke khas-an Tanah Air tercinta, dan bangga dapat mengunjungi negeri tempat kita berada, bila mereka saja bisa demikian bangga dan bersyukur, mengapa tidak dengan kita sebagai tuan rumahnya?

Ayo teman, selama masih ada waktu, bukan teknologi yang salah, hanya paradigma dan penerapan kita dan dalam kehidupan dewasa ini saja yang masih kurang tepat, namun bersama kita bisa mewijudkannya, berbekal kerinduan akan suasana permainan tradisional, yang mengajarkan kita bahasa, komunikasi, berbagi, dan memahami satu sama lain, serta sambutan baik terhadap teknologi yang ada saat ini dengan aneka ragam dan bentuknya, agar dapat kita manfaatkan secara bijaksana dan sebaik-baiknya, bukan hanya untuk kita, namun juga generasi dibawah yang menanti. Demikian ulasan tentang teknologi tak berarti gagap komunikasi.

Anita Kusuma Dewi

Latest posts by Anita Kusuma Dewi (see all)

Comments

comments