Technology Versus Humanity – “Jangan kuatir saat tidak ada yang memperdulikanmu, tapi kuatirlah saat kau mulai tidak peduli pada sesamamu..” betul sekali, kemandirian adalah hal utama yang diperbolehkan dalam  perseteruan kemanusiaan dan kemajuan teknologi yang ada.

Display Message BBM salah seorang teman, beberapa hari yang lalu, sedikit menggelitik saya. Apa iya, orang sudah sedemikian egoisnya sekarang?

Saya, dan juga kalian, semua yang lahir di medio 70-an akhir, 80-an, sampai 90-an awal, mungkin “cukup beruntung” tumbuh besar di 3 masa. Sebelum internet, saat internet berkembang, dan masa sekarang, masa dimana saat kita makan enak pun seluruh dunia harus tahu.

Apa hubungannya..??

Maksud saya, karena kita tumbuh besar di 3 masa itu, kita jadi tahu bagaimana cara orang berinteraksi sebelum dan sesudah ada internet. Jadi kita bisa membandingkannya..

Ah..Om-om dan Orang tua kita juga tahu kan bagaimana dulu sebelum masa internet..??

Ya, tapi saya yakin mereka tak pernah merasakan namanya cari kenalan lewat MiRc, pdkt adik kelas lewat sms, tebar pesona di Friendster, diskusi bareng komunitas di Kaskus, memantau Twitter gebetan, ngobrol lewat skype, atau menikmati senyum manis “calon istri” di Instagram. Ya, kita tumbuh bareng bersama teknologi. Saat dimana komputer masih barang mewah, sampai saat komputer tablet merajalela layaknya gorengan.

Oke kalau begitu. Lalu, apa hubungannya dengan ketidakpedulian di atas..??

Itu dia yang mau saya bahas. Sekarang katanya kebanyakan orang itu egois. Tidak pernah sosialisasi dengan tetangga. Jarang ngobrol dengan teman sekantor. Tidak ada lagi hiruk pikuk obrolan di ruang tunggu bandara. Apa iya kita tidak lagi peduli sesama..??

Padahal, kalau kita telaah lebih lanjut, ini semua sedikit banyak dipengaruhi oleh internet dan teknologi.

Contoh sederhana, perjalanan panjang dalam kereta atau bus. Pasti membosankan. Dulu, sebelum tahun 2008, saat dimana OS Android belum diciptakan, saat OS Symbian masih menguasai dunia, saat akses internet di Handphone tidak semudah sekarang, orang-orang mengisi waktu dengan ngobrol. Berkenalan dengan orang asing yang kebetulan duduk sebangku, membicarakan banyak hal, mulai dari pertanyaan normatif, asli mana – sekolah/kuliah/kerja dimana, membahas politik, sepakbola, serba-serbi mobil atau motor, gejolak harga properti, sampai ekonomi dunia (yang terakhir ini kecil kemungkinan sih :p). Itu dulu. Kalau sekarang?! Saling diam berjam-jam memainkan jemari di layar 4-7 inchi, menyapa teman lama yang jauh di sana.

Berinteraksi dengan orang asing, atau dengan kenalan yang tidak terlalu akrab, atau dengan teman yang tidak terlalu dekat dan berbeda sifat, atau dengan tetangga yang (mungkin) menyebalkan, terkadang terasa tidak nyaman dan kurang menarik bagi sebagian orang. Yang lebih menjengkelkan, kadang kita terpaksa terjebak lama, karena tidak punya alasan untuk “keluar” dari situasi ini.

Yang jauh terasa dekat, Yang dekat terasa jauh

Tapi sekarang, orang bisa menghindari momen canggung seperti ini, meskipun berada di lingkungan dan orang-orang yang asing dan tidak akrab, dengan “memutuskan” dari awal, akan berinteraksi dengan orang-orang yang kita kenal baik, sahabat kita, keluarga kita, atau pasangan kita, meskipun ada jauh disana. Ya, teknologi memungkinkan kita untuk melakukannya. Beragam layanan messenger dan media sosial bertebaran sekarang, mudah diakses bahkan dari Handphone. Membuat jarak menjadi tak bersekat.

Apa dengan begitu, bisa dibilang tidak peduli..?!

Menurut saya, adalah alamiah bahwasanya orang selalu mencari kenyamanan dalam segala hal. Obrolan, pertemanan, pasangan, pekerjaan, dan lain sebagainya. Dan ketika teknologi memungkinkan orang untuk mendapatkannya, itulah yang kita lakukan. Tanpa mempedulikan hal lain, di depan mata, yang secara sadar atau tidak, kita akui sebagai “kurang nyaman”, atau “kurang menarik”.

Jadi intinya, teknologi telah mengalihkan cara kita berinteraksi. Tidak lagi hanya dengan orang-orang yang secara nyata dan “real time” berada di dekat kita, tapi juga dengan orang-orang yang jauh di sana.

Kalau menurut saya, itu hanya sebuah kepedulian dalam bentuk lain. Teknologi membuat kita menjadi kurang (atau tidak) peduli dengan lingkungan dan orang-orang sekitar yang “kurang menarik atau kurang nyaman”, tapi justru peduli terhadap orang-orang dan hal-hal yang jauh dari kita, yang kita anggap “nyaman” dan “menarik”.

Yang menurut saya kemudian menjadi salah adalah, ketika dengan adanya teknologi, kita tidak lagi mentolelir “ketidaknyamanan” itu. Sama sekali tidak mau terjebak di dalamnya, untuk sedikit “peduli” dan menyenangkan orang lain di sekitar kita. Terlalu larut bercengkrama dengan teknologi, yang menyebabkan kita hanya peduli dan mengurusi hal-hal yang kita mau, walau tidak di sekitar kita.

Padahal ada saat dimana kita harus melepaskan sedikit ego kita, berempati dan berinteraksi dengan orang lain di sekitar kita, yang sebenarnya, “kurang menarik” untuk kita, yang kadang menyebabkan kita “tidak nyaman”. Tapi, hal itu perlu kita lakukan, untuk kebaikan. Paling tidak, untuk orang lain.

Perhatikan Sekeliling Anda..

Tak ada salahnya kita sedikit meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga, menjenguk kenalan kita yang tengah sakit, membantu apa yang kita bisa untuk orang lain yang tengah kesulitan, berbela sungkawa untuk orang lain yang tengah berduka, atau sekedar sedikit basa-basi dengan teman sebangku di transportasi umum atau di area publik.

Sedikit dari kita, tapi yakinlah, sangat berarti untuk orang lain. Bukankah sudah dikatakan, bahwa sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain.

Maukah kita?

Karena kalau tidak, sisi humanisme mungkin akan semakin luntur, karena kita terlalu larut berinteraksi dengan teknologi. Padahal itu kita lakukan karena kita peduli. Ironis bukan..?!

Beda dulu dan sekarang..

 

Ataukah kita lupa bagaimana cara kita berinteraksi dulu..?!

Mengunjungi dan mengetuk pintu rumah teman untuk berbincang, bukan sekedar menelepon/bbm/whatsapp/messenger lain. Bermain kelereng atau layangan di sore hari bersama teman, bukan hanya main zynga poker, point blank, atau game online lain. Bertukar koleksi kaset, bukan sekedar berbagi link download. Sengaja datang acara tertentu atau perkumpulan komunitas untuk menambah kenalan, bukan sekedar search-add di facebook. Berburu ilmu di toko buku atau perpustakaan, bukan sekedar cari bahan lewat search engine.

Rindu dengan masa-masa itu..??
Ahh…Selamat datang di dunia modern dan teknologi, kawan…

Rezaputra Chandra Novianto

Latest posts by Rezaputra Chandra Novianto (see all)

Comments

comments