Penemuan komputer, tidak terbantahkan lagi memberikan pengaruh positif dalam kehidupan umat manusia. Semua kegiatan yang kita lakukan dapat berjalan lebih efektif, efisien dan ekonomis berkat komputer. Namun pada perkembangannya, pada titik tertentu implementasi dari teknologi komputer dapat membawa efek yang berkebalikan dari tujuan yang kita harapkan.

Tulisan yang memiliki judul utama ‘Paradoks Dalam Teknologi Komputer’ ini tidak akan membahas mengenai akibat buruk penggunaan komputer. Apalagi mendukung isu penentangan komputerisasi, karena tulisan inipun bisa dinikmati pembaca karena komputer.

Tulisan ini sekedar pengingat bagi kita semua bahwa ketidakbijakan kita dalam penggunaan komputer akan membawa dampak yang berlawanan dengan apa yang kita inginkan. Berikut adalah wacana tentang itu;

Paradoks Dalam Teknologi Komputer
Computer Paradox

Mendekatkan yang Jauh Sekaligus Menjauhkan yang Dekat

Berterimakasihlah kita kepada komputer, karena dengan alat ini kita bisa memperoleh informasi sekaligus berkomunikasi dengan orang lain tanpa halangan jarak. Semula kita mengira bahwa dengan ditemukannya telepon, informasi dan komunikasi menjadi hemat terlebih lagi dengan munculnya wujud baru telepon bertajuk handphone. Ternyata dengan pemanfaatan komputer yang terhubung dengan internet biaya komunikasi bahkan menjadi lebih hemat lagi.

Namun penggunaan teknologi dengan kurang bijak bisa membawa dampak yang kurang menyenangkan. Di satu sisi kita bisa berkomunikasi dengan teman, relasi bisnis bahkan mengerjakan tugas kantor di rumah. Tapi di sisi lain komunikasi yang terlalu intens dengan dunia luar akan mengganggu hubungan komunikasi kita dengan orang-orang yang dekat dengan kita.

Anak dan istri yang berada di seberang meja makan seakan tidak lebih dekat dari relasi bisnis Anda di luar negeri. Bunyi pesan yang masuk ke email di komputer Anda kadang lebih diperhatikan dari pada suara anak Anda yang merengek minta ditemani bermain. Apa benar demikian?

Dalam dunia pertemanan, penggunaan teknologi juga membawa dampak yang lebih gawat. Orang yang asyik dengan situs pertemanan cenderung memiliki banyak teman dan follower di dunia maya, tapi di dunia nyata belum tentu seminggu sekali mereka bertemu dengan teman-teman tersebut. Dalam level yang lebih kronis, mereka cenderung menjadi anti sosial, enggan bertemu dengan orang secara langsung karena semua itu bisa ditempuh lewat teknologi komunikasi yang tertanam dalam perangkat elektronik hasil pengembangan teknologi era modern.

Situs pertemanan yang seharusnya menjadikan kita lebih dekat dengan orang-orang di sekitar kita, justru menjadi jurang pemisah bagi kita untuk berinteraksi dan bertatap muka secara langsung.

Google Addict

Tidak afdol jika kita membicarakan tentang internet tapi tidak menyinggung kehadiran mesin pencari. Khusus di dunia ecommerce ada banyak website yang bergerak sebagai mesin pencari belanja, salah satunya yang hadir dan asal Indonesia adalah PriceArea.com,

Dengan fasilitas ini kita menjadi sangat terbantu ketika mencari informasi apapun yang kita butuhkan hanya dalam hitungan detik. Dunia pendidikan menjadi salah satu bidang yang memperoleh manfaat yang besar melalui mesin pencari. Buku-buku yang sebelumnya harus dicari oleh pelajar dan mahasiswa di perpustakaan dan toko-toko buku dengan biaya yang tidak sedikit, bisa diperoleh melalui layanan internet dengan komputerisasi yang notabene tak mengeluarkan biaya sepeserpun.

Tak terbayangkan jika kita harus menghafal situs-situs internet untuk memperoleh informasi tertentu agar bisa terpampang di layar PC, laptop atau tablet internet. Ketergantungan yang semakin besar terhadap kehadiran mesin pencari ternyata juga menimbulkan akibat yang kurang baik. Apabila sebelumnya pelajar dan mahasiswa harus membaca buku satu persatu setiap akan mengerjakan tugas, sekarang dengan adanya mesin pencari, kegiatan tersebut bisa dilewati.

Mereka tinggal mengetik kata kunci pada search bar dan hanya dengan satu klik terpampanglah semua hal yang mereka butuhkan. Ritual copy paste menjadikan generasi saat ini terancam menjadi generasi yang tidak kreatif dan otak yang mati.

Tidak ada lagi ruang privasi

Sejak ditemukannya layanan email di internet sebenarnya menjadi salah satu penanda bahwa sebebas apapun dunia maya, masih ada ruang tertentu yang memperoleh privasi bagi hal-hal yang bersifat pribadi. Email dibekali dengan piranti pengamanan agar tidak sembarang orang bisa mengaksesnya.

Ada batasan yang jelas, mana informasi di internet yang dapat diperoleh semua orang dan mana informasi dengan akses yang terbatas. Dengan semakin canggihnya bahasa pemrograman berbasis web, semakin canggih pula pengamanan yang dilakukan terhadap akun-akun khusus tersebut.

Akan tetapi tidak semua pengguna komputer yang terhubung dengan internet mengerti arti penting dari pengamanan tersebut. Mereka dengan sembrono memampang informasi-informasi sensitif yang dapat diakses seluruh pengguna di dunia.

Pengguna internet tanpa berpikir telah memampang data diri mereka ataupun data orang lain yang tidak sepantasnya diketahui semua orang. Disamping itu, mereka juga menuliskan hal-hal yang terlalu vulgar, bahkan berpotensi menyinggung dan mencemarkan nama baik pihak lain.

Kejadian nyata beberapa tahun lalu, ada seorang pegawai yang dipecat karena memaki-maki atasannya di situs pertemanan padahal atasannya juga dapat membaca makian yang dia lontarkan.

Ilustrasi Polaritas Komputer
Ilustrasi Polaritas Komputer

Jurang pemisah desa dan kota

Dengan teknologi komputasi seperti laptop, smartphone dan tablet internet, hambatan jarak dan kondisi geografis antara desa dan kota dapat dieliminasi. Tapi kita juga harus sadar bahwa infrastruktur komunikasi belum sepenuhnya merata di desa-desa terpencil. Mereka masih menggunakan sarana tradisional dalam menyampaikan dan memperoleh informasi dari kota.

Jangankan jaringan internet, telepon dan handphone-pun tidak dapat digunakan karena sarana penunjang seperti BTS yang belum ada. Dalam keadaan seperti itu, jurang pemisah antara desa dan kota akan menjadi semakin lebar. Teknologi komputer yang harusnya bisa mengakselerasi pembangunan di desa untuk mengejar ketertinggalan mereka dengan pembangunan di kota justru mengakibatkan desa menjadi semakin terbelakang.

Selain empat hal di atas tentu masih banyak paradoks dalam teknologi komputer lain yang akan Kita temukan. Tugas Kita tentunya untuk segera menghilangkan pandangan tersebut agar tujuan dari pemanfaatan teknologi komputer menjadi terlaksana dengan baik, aman dan sehat untuk semua.

Rohmad Adi Siaman

Latest posts by Rohmad Adi Siaman (see all)

Comments

comments