Pengendali Komputer – Pernahkah Anda membayangkan bagaimana otak kita bisa mengendalikan komputer layaknya mengendalikan seluruh tubuh kita?

Mungkin kita belum mengetahui bahwa otak kita ternyata menghasilkan semacam gelombang Alpha ketika kita sedang berpikir. Gelombang inilah yang nantinya ditangkap oleh sebuah microchip yang berhasil diciptakan yang akan mengkonversi  sinyal gelombang analog ini ke bilangan biner untuk mengendalikan suatu objek di komputer tanpa menggunakan alat apapun. Komputer akan menerjemahkan bilangan biner tersebut dan dengan cepat menerjemahkannya.

Ilustrasi Software Pengendali Komputer
Ilustrasi Software Pengendali Komputer

Sebelum kita mengulas sedikit mengenai microchip ini, Anda tahu apa itu gelombang Alpha yang dihasilkan otak? Atau Anda hanya beberapa kali mendengar kata-kata itu? Atau bahkan Anda baru mendengarnya sekarang?

Gelombang Alpha

Gelombang Alpha itu mempunyai frekuensi sekitar 8-13,9 Hz dan bisa sebagai pemicu pengendali komputer. Dalam frekuensi ini, kondisi seseorang sedang rileks, melamun, atau berkhayal. Kondisi ini merupakan pintu masuk atau keluarnya potensi dari alam bawah sadar anda. Anak-anak balita selalu berada dalam kondisi alfa. Itu sebabnya mereka mampu menyerap informasi secara cepat.

Dalam kondisi ini, otak memproduksi hormon serotonin dan endorfin yang menyebabkan seseorang merasa tenang, nyaman dan bahagia. Gelombang Alpha akan membuat imunitas tubuh meningkat, pembuluh darah terbuka lebar, detak jantung menjadi stabil, dan kapasitas indra kita meningkat. Sehingga ketika kita berpikir, otak menghasilkan gelombang Alpha.

Apakah sekarang Anda telah paham ada apa di balik gelombang Alpha? Jika belum, Anda bisa mencoba searching mengenai gelombang otak. Nanti akan dipaparkan lebih dalam dan terperinci lagi. Sekarang, saya akan membahas mengenai microchip yang digunakan dalam mengubah gelombang Alpha tadi. Mungkin Anda masih bingung bagaimana bentuk dari sebuah microchip yang digunakan. Apakah hampir sama dengan microprocessor dari sebuah laptop atau sejenisnya?

Anggaplah microchip itu sama dengan microprocessor karena dari segi tujuan, microchip dengan microprocessor itu sama. Hanya bedanya, penerapannya. Jika microchip diperuntukkan untuk otak manusia, otomatis rangkaiannya juga yang aman bagi manusia, sedangkan microprocessor diperuntukkan untuk benda mati yang canggih.

Saya akan mengajak Anda membayangkan sebuah robot yang dikendalikan dengan mesin, ini juga bisa dikatakan sebagai pengendali komputer canggih. Yang memerlukan sebuah alat untuk menghubungkan kemauan kita dengan gerakan robot agar sesuai keinginan kita. Terkadang kita tidak sabar bukan? Nah, inilah yang menjadi pemikiran pertama para ilmuwan. Para ilmuwan ini membayangkan bagaimana jika kita mengendalikan robot cukup menggunakan pikiran sehingga robot tersebut dapat lebih cepat dan tepat dalam menanggapi keinginan kita.

Misalkan, kita menginginkan secangkir kopi. Kita cukup konsentrasi dengan kata kunci “KOPI” maka microchip itu akan menerjemahkan gelombang Alpha yang dihasilkan otak kita dalam biner lalu diterjemahkan oleh robot. Maka, robot akan melakukan sesuai dengan keinginan kita, yaitu secangkir kopi. Jadi, kuncinya kita cukup konsentrasi terhadap suatu objek dan robot akan bereaksi sesuai keinginan kita.

Banyak terobosan baru yang muncul secara bersamaan ketika microchip ini ditemukan. Termasuk penggunaan teknologi telepon genggam, bayangkan seseorang bisa mengirimkan surel dan chatting tanpa mengetikkan kata-katanya, hanya melalui pikiran mereka. Untuk lebih jelasnya, kita bisa membayangkan sebuah tablet transparan. Kita cukup melihat layar tablet dan memikirkan apa yang akan dilakukan maka cursor dalam tablet itu akan mengarahkan apa yang kita pikirkan

Namun, microchip ini menuai banyak respon negatif. Permasalahan utamanya adalah pemasangannya pada otak yang sangat sensitif. Seperti yang kita ketahui, otak merupakan alat penting yang mengendalikan segala kegiatan yang dilakukan tubuh, jika susunannya sedikit saja berubah maka, dapat dipastikan segalanya berubah.

Lontaran Negatif

Lontaran-lontaran negatif ini datang dari Dewan Nuffield untuk Bioetika di Inggris. Mereka menolak keras terhadap penemuan sejumlah ilmuwan Inggris mengenai pemasangan teknologi komputer pada otak manusia guna menciptakan manusia super dan mampi sebagai pengendali komputer canggih.

Dalam debatnya, Dewan Nuffield yang dipimpin oleh Thomas Baldwin, profesor filsafat dari Universitas York memberikan ulasannya.

“Mengintervensi otak selalu meningkatkan harapan dan ketakutan sama banyaknya. Berharap bisa menyembuhkan penyakit berbahaya dan ketakutan akan konsekuensi meningkatkan kapabilitas manusia melampaui normal,” tuturnya.

“Harapan dan ketakutan ini menantang kita berpikir hati-hati mengenai pertanyaan mendasar terkait otak: Apa yang membuat kita manusia? Apa yang membuat kita sebagai seorang individu? Dan bagaimana serta mengapa kita berpikir dan bertindak?” lanjutnya.

Mereka mempertanyakan jika komputer dipasang pada otak manusia, lalu bedanya manusia dengan mesin yang diatur dengan sebuah microchip itu apa? Ini terlihat jelas jika kita membayangkan pada dunia kemiliteran dan dunia game. Jika antarmuka otak-komputer digunakan untuk mengendalikan pesawat militer atau senjata dari jauh, siapa yang mengambil tanggung jawab atas tindakan itu? Bukankah ini mempertegas kaburnya batas antara manusia dan mesin?

Peran Microchip

Namun, microchip ini juga membawa dampak yang baik buat manusia, terutama bagi penderita penyakit otak. Microchip ini bisa digunakan dalam pengobatan penyakit Parkinson, depresi, dan strok. Microchip ini juga bisa mendeteksi tingkat ketegangan pikiran manusia. Jadi, jika manusia berpikir terlalu tegang, microchip ini akan memberikan stimulus agar merelaksasikan ketegangan tersebut.

Menurut saya, microchip ini perlu dikembangkan kembali agar risikonya kecil. Apalagi hubungannya dengan otak. Pengembangan microchip harus bisa membuat microchip tidak membatasi ruang berpikir manusia sehingga ketika manusia ingin berpikir menggunakan otak, hanya dengan otak tanpa melibatkan teknologi yang menerjemahkan pikiran mereka.

Akan lebih baik kembali, microchip sebagai salah satu komponen inti piranti elektronik ini tidak dipasang dalam otak sebagai pengendali komputer. Meskipun telah dikembangkan, kita tidak bisa menyepelekan risiko yang ‘kecil’ itu.

Wening Tunjung

Latest posts by Wening Tunjung (see all)

Comments

comments