Membentuk digital native yang berkarakter – Sesaat air mata saya terhapus oleh pemandangan di hadapan. Hari itu saya harus berangkat dan meninggalkan dua gadis kecil, bayi laki-laki 6 bulan dan kekasih sepanjang jaman. Meski hanya sebulan tetap saja terasa berat.

Hingga duduk di ruang tunggu pesawat air mata tak henti menetes. Saya coba usir galau dengan menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruang tunggu. Akhirnya mata pun terpaku pada bangku tepat di depan saya. Mereka berempat adalah satu keluarga, seorang ibu dan ketiga anaknya. Kemiripan wajah lah yang membuat saya menerka demikian.

Mereka terlihat sibuk. Masing-masing memegang gadget. Anak pertama, sekitar 12 tahun sedang asyik dengan tablet internet-nya; Anak kedua dan ketiga masing-masing memegang handphone dengan jari-jemari yang terus menari-nari. Sang ibu pun terus menatap layar gadget, sesekali ia tersenyum sendirian.

Tak sepatah kata memecah keheningan di antara mereka berempat. Setidaknya selama kurang lebih setengah jam saya duduk di situ. Persis seperti gambaran Rhenald Kasali tentang munculnya komunitas ASRI (Asyik sendiri-sendiri) di era digital saat ini. Salah satu akibatnya, yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh.

Ilustrasi Membentuk Digital Native yang Berkarakter
Ilustrasi Membentuk Digital Native yang Berkarakter

Produk Digital Menciptakan Ruang Hampa

Pemandangan tersebut membuat saya semakin apriori dengan produk-produk teknologi informasi terbaru. Terbesit kekhawatiran muncul. Semoga itu bukan potret keluarga saya. Tentu saja semoga ini juga bukan potret keluarga Indonesia. Produk digital rupanya telah menciptakan ruang hampa diantara mereka.

Saat ini kami sekeluarga sudah berkumpul kembali. Kalau di Indonesia akses internet kami lakukan dengan dua modem yang ditancap pada komputer jinjing, saat ini kami menggunakan wireless. Jauh lebih cepat dan semakin banyak produk digital yang bisa di pakai seperti handset dan lainnya. Alhasil anak-anak saya pun tak mau kalah berinternet ria. Begitu bangun tidur, setelah shalat subuh, langsung mencari handphone atau laptop.

Ternyata yang saya khawatirkan terjadi juga. Kalau boleh jujur sebagai ibu saya merasa cemburu. Kesibukan mereka memang memberikan ruang bagi saya untuk belajar dan mengerjakan tugas. Namun, saya juga tidak bisa pungkiri kekhawatiran tersebut.

Kecemburuan tersebut adalah kecemburuan ketika mereka lebih asyik dengan gadget dari pada berkomunikasi dengan saya. Kekhawatiran tersebut adalah kekhawatiran sebagaimana kekhawatiran Marc Prensky akan perilaku para digital native ataupun kekhawatiran Rhenald Kasali dengan munculnya generasi C, atau Gen-C.

Kelahiran produk digital telah membentuk karakter yang selalu terhubung (connected) melalui internet, memiliki rasa ingin tahu yang besar (curious), berperilaku seperti bunglon (chameleon) yang cepat berubah dan akan terus berubah (constantly changing).

Digital Native dan Digital Immigrant

Marc Prenscy menyebutkan para digital native ini adalah generasi yang dilahirkan ketika produk-produk digital telah menjadi bahasa sehari-hari mereka. Marc menganggap fenomena munculnya digitalisasi ini turut andil terhadap menurunnya kualitas pendidikan di Amerika. Berbeda dengan generasi sebelumnya, digital native bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu. Lihat saja fenomena di sekeliling kita.

Ketika sedang santap siang bersama dalam satu meja dengan rekan-rakannya generasi ini tetap bisa ngobrol kesana kemari sambil sesekali menatap gadget-nya. Bahkan mereka pun bisa berkomentar di media sosial tanpa menatap layar. Jari-jemari mereka sudah terlatih menggunakan touchscreen. Hanya saja, bisa kah anak-anak ini memusatkan perhatian pada proses pembelajaran kalau terlalu banyak ‘distruction’ di sekitarnya?.

Saya sendiri sepakat dengan ide Marc Prensky bahwa tidak selayaknya para digital immigrant, termasuk generasi saya yang harus beradaptasi dengan teknologi digital, memandang sebelah mata digital native. Tak perlu pula mereka membandingkan ketangguhan para digital native dengan mereka yang hidup pada masa produk digital belum membanjir. Justru para digital immigrant harus menemukan cara baru agar proses pembelajaran bisa diterima dengan baik dan menyenangkan.

Jelas, cara pembelajaran model lama tidak lagi diminati kalau para digital native ini hanya disuruh duduk manis mendengarkan di kelas. Tak heran kalau mereka lebih suka sembunyi-sembunyi menulis status ataupun berkomentar di media sosial saat guru sedang di depan kelas.

Saya juga sepakat dengan ide Marc Prensky bahwa perlu diciptakan software-software pendidikan yang bisa jadi berpengaruh signifikan terhadap pendidikan para digital native ini. Memang benar adanya. Software atau aplikasi pendidikan tersebut akan membius para digital native untuk belajar karena integrasi pendidikan dengan game, misalnya.

Saat ini kita bisa melihat banyak perangkat lunak di toko-toko buku atau bahkan banyak yang bisa diunduh dari internet secara gratis. Jadi bersyukurlah dengan perkembangan teknologi informasi yang ada. Tugas terberat saat ini adalah bagaimana bisa menjadikan kemudahan dan fasilitas-fasilitas tersebut memberikan dampak signifikan terhadap kemajuan anak. Meminjam istilah ekonomi, selayaknya kiranya kita mulai menghitung return on investment dari pembelian produk-produk digital. Adakah efeknya terhadap perkembangan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual serta finansial bagi kita dan bagi anak?

Saat ini semua orang seperti berlomba untuk memamerkan gadget terbarunya. Pembelian produk terbaru dianggap sebagai satu cara untuk menaikkan gengsi. Saya sendiri sering menganggap hal itu adalah bagian dari upaya propaganda konsumerisme. Belum lagi jika dilihat dari pola pemanfaatannya. Produk teknologi informasi tersebut sepertinya lebih banyak dimanfaatkan untuk media sosial, game dan foto melalui digital kamera. Jadi tidak terlalu salah barangkali kalau kemudian saya simpulkan bahwa produk ini adalah bagian dari budaya Pop.

Data pengguna internet di Indonesia menurut Wikipidia sebanyak 55 juta pada akhir tahun 2012. Dari jumlah tersebut 51 juta-nya adalah pengguna facebook. Penetrasi pengguna internet kita sudah mencapai 22,12% dari total penduduk. Tapi percayakah Anda kalau penetrasi facebook mencapai 91,58% dari total pengguna internet?

Artinya?

Ya…tanpa menafikan manfaat facebook, penggunaan internet kita masih sebatas update status dan berkomentar. Kita termasuk negara dengan tingkat penetrasi facebook yang sangat tinggi setara dengan Mexico, Costa Rica, Honduras, Yordania, dan Kongo. Kita rupanya jauh lebih aktif dalam memanfaatkan media sosial ini dibandingkan negara tetangga kita Malaysia yang hanya mencapai 76% dari seluruh total pengguna internet di negeri tersebut. Padahal internet bukan hanya facebook. Ironis bukan?

Jadi?

Teringat kembali puisi Kahlil Gibran tentang anak yang cukup relevan untuk membahas digital native dan digital immigrant;

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan. Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan. Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Sebagai orang tua sekaligus sebagai mahasiswa saya tidak bisa secara terus menerus mendampingi anak dalam menggunakan internet. Di sisi lain, saya juga tidak ingin menciptakan ruang hampa yang disebabkan oleh teknologi. Mau tidak mau saya harus berfikir proses pendidikan di rumah khususnya pendidikan agama agar bisa berjalan. Kalau proses pendidikan umum saya bisa mempercayakannya pada institusi pendidikan di negeri kangguru ini.

Untunglah, lagi-lagi, kini kita difasilitasi untuk mengunduh lautan ilmu yang sangat banyak dari mBah Google. Belum lagi aplikasi gratis game edukatif dan kisah-kisah inpiratif untuk anak yang sangat bermanfaat. Tentu, tugas orang tua bukan saja mengunduh dan menginstalkannya untuk anak apalagi hanya membelikan.

Lalu, membiarkan sang anak bereksplorasi tanpa pengawasan kita. Tapi bagaimana kita menjalankan peran sebagai guru dan fasilitator sebagaimana busur yang dimaksud oleh Kahlil Gibran. Yaitu ia yang siap mendampingi, menginspirasi dan mengintegrasikan semua fasilitas tersebut dengan nilai-nilai kehidupan.

Ya…agar anak-anak Indonesia menjadi Gen-C yang ber C (character) bukan para Chameleon yang terombang-ambing dalam derasnya arus informasi. Semoga kita bisa membentuk digital native yang berkarakter!

nur ana sejati

Latest posts by nur ana sejati (see all)

Comments

comments