Tidak selamanya kemajuan & kecanggihan tehnologi dapat diidentikkan dengan kerusakan. Semua itu tergantung siapa yang menggunakan atau memanfaatkannya. Digitalisasi arsip-arsip tempo dulu menjadi sangat penting disaat ini. Termasuk digitalisasi kitab-kitab kuno, atau yang lebih sering disebut dengan “Kitab Kuning”. Mari kita kita ulas tentang mantap berdakwah dan mengaji lewat digitalisasi kitab kuning.

Kitab Kuning, merupakan sebuah istilah jamak bagi para santri dan insan pesantren di Indonesia dan sekitarnya untuk merujuk kepada kitab-kitab klasik karya ulama-ulama besar dunia, baik dari Indonesia maupun dari timur-tengah dan belahan dunia lain.

Disebut kitab kuning karena umumnya dicetak pada bahan kertas yang berwarna coklat-kekuningan. Ditengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, tampaknya Kitab kuning juga perlu di digital-kan. Hal tersebut menjadi terasa penting, karena kitab-kitab kuno yang saat ini masih ada keadaannya sudak banyak yang lapuk termakan usia.

Tak ada salahnya tentu, seperti halnya kitab lain yang dipercaya oleh agama lain yang juga harus dipindai untuk menjadi digital guna melestarikan nilai historis sebuah kepercayaan atau ajaran yang tersimpan di dalamnya.

Ilustrasi Mantap Berdakwah dan Mengaji Lewat Digitalisasi Kitab Kuning
Ilustrasi Mantap Berdakwah dan Mengaji Lewat Digitalisasi Kitab Kuning

Proses digitalisasi yang dilakukan

Proses digitalisasi (apakah dengan mengetik ulang atau scan teks menggunakan scanner yang bisa mengenali huruf Arab) tersebut yaitu mer­ubah bentuk material atau isi kitab kuning yang tercetak dalam lembaran-lembaran kertas yang berjilid-jilid dan memenuhi ratusan rak buku ke dalam bentuk digital yang cukup disimpan dalam sekeping DVD (berkapasitas kurang lebih 5 GB) dan bisa digenggam atau dibaca dimanapun dan kapanpun melalui Laptop, PC maupun alat pembaca teks yang lain seperti mp4 player, ipod dan lain-lain.

Sehingga semua bisa menikmatinya dengan mudah mulai dari ulama hingga santri, tidak perlu lagi susah-susah membawa segepok kitab kuning di tangannya ketika hendak mengajar atau mengaji. Cukup membawa alat elektronik canggih yang berfungsi membaca teks tersebut justru ini lebih memudahkan karena ragama refrensi kitab dengan sangat mudah ditemukan.

Selain itu, dengan digitalisasi ini,  berbagai kitab yang disajikan mulai dari Ulumul Qur’an, ilmu tafsir, musthalah hadists, fikih, tasawuf bisa dibuka siapa saja bahkan bisa dibedol (download) secara gratis. Siapapun yang ingin membaca kitab tertentu ini, tidak harus meminjam di perpustakaan, di pesantren atau pada kiai tertentu.

Nilai Historis

Sah-sah saja dikatakan usang tetapi kitab kuning sangat penting, secara historis kitab kuning adalah mata rantai perkem­bang­an ilmu pengetahuan, yang merupakan ben­tuk interpretasi, kontekstualisasi ajaran Islam yang termaktub dalam Al Quran dan Sunnah, yang dilakukan oleh ulama sepan­jang abad dan di seluruh belahan dunia Islam tak terkecuali Nusantara.

Apalagi jika upaya digitalisasi ini mendapatkan dukungan dari berbabagai perusahan IT dengan menyediakan software pustaka kitab kuning sebagai satu aplikasi di layanannya maka bukan tidak mungkin penggemar-penggemar iPad, Android dan ponsel pintar sejenisnya yang sementara ini masih berada di zona perkotaan maka akan semakin meluas merambah zona pesantren yang kebanyakan berada di pedesaaan.

Selain itu dengan upaya digitalisasi ini maka secara tidak langsung kita juga berturut serta untuk mengembangkan generasi yang melek IT di Indonesia. Mantap berdakwah dan mengaji lewat digitalisasi kitab kuning merupakan salah satu cara kecil yang bisa Anda lakukan.

Faisal Ramdhani

Latest posts by Faisal Ramdhani (see all)

Comments

comments