Jadilah Muslim yang Profesional – Pagi itu aku pergi ke kantor dengan mengendarai sepeda motor. Alhamdulillah jalanan tidak terlalu berdebu, padahal musim kemarau, mestinya sedang mencapai puncak-puncaknya. Saat itu kurasakan terpaan angin agak sejuk, tampaknya tadi malam baru turun hujan, memang alam saat ini tidak lagi mengenal musim dengan jelas.

Dengan cuaca yang bersahabat dan arus lalulintas yang lancar, perpaduan gas dan kopling sepeda motorku bak perpaduan simfoni perjalanan, seakan aku ingin mengukur meter demi meter aspal jalanan. Maklum, perjalanan menuju tempat bekerja berlawanan dengan arus macet, dan seakan-akan aku sangat menikmati perjalanan pagi itu.

Pendahulu cerita ini bukanlah perihal utama yang ingin disampaikan, Aku juga bukan ingin bercerita tentang cuaca, atau tentang nikmatnya bersepeda motor di pagi hari ketika semalam aspal jalanan baru diguyur hujan.

Ada hal yang  sebenarnya ingin disampaikan untuk sekedar berbagi dengan Anda sekalian. Sebenarnya, mungkin ini adalah bukan soal bagi khalayak umum, tapi bagiku melihat hal itu terasa sedikit beban yang cukup mengganjal, ini masalah ujian bagiku, karena menurutku ini adalah pemahaman sejauhmana aku peduli kepada apa yang kuyakini itu benar.

Perlu juga Anda ketahui bahwa ini bukanlah untuk memberikan konotasi berbeda atau hal mendeskriditkan kepercayaan masing-masing, namun menurutku ini semata merupakan sesuatu hal yang harus diluruskan pemahamannya.

Kita mulai saja pengalaman ku, ketika aku sedang menikmati perjalanan, tiba-tiba ada seorang pengendara sepeda motor yang menyalip motorku, sejenak aku terkaget, tapi mataku melihat sepertinya ada sesuatu yang aneh di belakang jaketnya. Dengan penasaran kukejar motor itu, maksudnya ingin lebih dekat lagi agar aku bisa membaca tulisan di jaketnya itu apa!

Ilustrasi Logo Microsoft yang Digunakan Sebagai Lambang Jaket
Ilustrasi Logo Microsoft yang Digunakan Sebagai Lambang Jaket

Benar, dengan jelas kubaca tulisannya berbunyi “JADILAH SEORANG MUSLIM YANG PROFESIONAL”, dan tulisan tersebut persis di atasnya terdapat lambang logo WINDOWS (operating system computer).

Sejenak aku berfikir! Apa ini maksudnya? Apa sekedar atribut, atau sebuah komunitas yang semata-mata hanya mencari sensasi, sebuah show force dari kawula muda dunia Information Technology (IT) bahwa, “Ini lho.. aku orang-orang IT profesional yang canggih, tapi aku juga adalah orang-orang yang tak melupakan agama..!”

Maksudnya begitu mungkin! Komunitas itu ingin tampil beda, tidak ortodok. Tapi rasa kritisku mengatakan inilah produk pendidikan agama yang salah kaprah.

Tidak dapat membedakan bahwa agama adalah urusan batiniah yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kosakata profesionalisme, bahwa agama bukanlah profesi, dan tidak perlu mempunyai kepandaian khusus untuk menjalankan agama. Pemeluk agama tidak mengenal kosakata profesional atau amatiran.

Bila dikaitkan dengan era teknologi dalam lomba penulisan ini maka nyaris sama dengan produk elektronik, meski memiliki jenis yang berbeda maka tidak bisa dihilangkan bahwa itu merupakan produk elektronik yang harus membutuhkan listrik ketika menggunakanya.

Kembali pada persoalan, maka jika pemahaman seperti ini terus berkembang, maka tidak mustahil setiap orang mensahkan adanya komersialisasi agama. Agama mestinya dipahami sebagai ajaran ahlak yang luhur, Islam bahkan mengajarkan bahwa segala yang berhubungan dengan material itu adalah alat untuk menuju kehidupan hakiki, karena kehidupan yang hakiki itu sebenarnya adalah akherat.

Apapun perangkat yang ada di duniawi ini boleh digunakan dan dimanfaatkan, sebab tak ada larangan dengan hal itu, justru perbanyaklah ilmu untuk bisa mengetahui atau mempelajari sesuatu, mulai dari teknologi transportasi mobil, telekomunikasi hingga sistem informasi. Silahkan untuk di pelajari dengan baik.

Akan sangat kontradiktif, jika agama dipahami sebagi kepentingan utamanya adalah sesuatu yang bersifat jasadi atau wujud, atau penampilan yang digambarkan sebagai profesional itu daripada esensinya. Semoga saja Anda bisa dan berkenan untuk memahami pemaparanku tentang yang terjadi. Harapanku, jadilah seorang muslim yang profesional.

Hedi Rachdiana

Latest posts by Hedi Rachdiana (see all)

Comments

comments