Dari ‘mama minta pulsa’ sampai ke Sprindik KPK – Sebilah pisau jika berada di tangan seorang “Chef” boleh jadi akan menghasilkan produk kuliner yang bercitarasa dan bernilai tinggi, tetapi jika pisau tersebut berada di tangan seorang “preman” boleh jadi ia merupakan senjata yang menakutkan dan mematikan.

Demikian juga sebuah gadget, katakanlah sebuah handphone. Di tangan yang tepat ia akan menjadi alat komunikasi yang sangat penting dalam menyelesaikan segala masalah dari masalah keluarga sampai ke masalah bisnis tapi di tangan yang tidak tepat ia bisa menjadi sebuah alat untuk melakukan kejahatan.

Dalam perkembangan teknologi yang sangat pesat, komunikasi menjadi sangat mudah. Berbagai perangkat komunikasi tersedia banyak dalam sebuah gadget dari mulai phone call, SMS sampai ke social media seperti BBM, Wechat, Whatsup, line, kakao talk dan skype.

Dari mama minta pulsa Sampai ke Sprindik KPK
Dari ‘mama minta pulsa’ Sampai ke Sprindik KPK

Tidak hanya sampai disitu, saat ini internetan bisa dilakukan di mana saja karena smartphone sudah dilengkapi dengan perangkat browser. Ponsel pintar saat ini juga telah dilengkapi dengan fasilitas visual seperti kamera, video player dan berbagai software untuk mengedit foto atau video.

Perkembangan teknologi seperti itu tentu saja menggembirakan bagi masyarakat pengguna tetapi juga tak jarang banyak masyarakat menjadi korban yang disebabkan tidak cermat dalam menyikapi sebuah informasi.

Aldo seorang siswa sebuah SMP di Depok menerima panggilan telepon yang katanya dari Badan Narkotika Nasional. Aldo diberitahu bahwa nomornya sudah diduplikasi oleh seorang bandar narkoba, untuk melancarkan pelacakan bandar narkoba tersebut Aldo diperintahkan mematikan handphone-nya selama dua jam.

Beberapa saat kemudian orang tua Aldo mendapat telepon dari seseorang yang menyatakan Aldo mendapat kecelakaan dan membutuhkan penanganan medis segera. Dia minta ditransfer Rp 15 juta rupiah dan harus masuk dalam 5 menit kalau Aldo mau selamat. Untuk meyakinkan ia mengirimkan sebuah foto seorang anak sekolah yang mukanya berlumuran darah sedang digotong sang penolong.

Orang tua Aldo semakin yakin Aldo dapat musibah ketika tidak dapat menghubungi Aldo karena handphone-nya nonaktif. Mereka tersadar telah tertipu setelah di rumah sakit yang dikatakan “sang penolong” tersebut ternyata tidak ada Aldo dan ketika menghubungi sekolah ternyata Aldo dalam keadaan baik-baik saja.

Ilustrasi tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa kejahatan dengan menggunakan perangkat teknologi informasi semakin canggih, jika dulu penipuannya dengan “mama minta pulsa” atau “Anda mendapatkan hadiah”, sekarang pelaku sudah meningkatkan “kualitasnya” seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang seakan melesat lari meninggalkan orang-orang yang tidak mengikutinya.

Sasarannya tidak hanya masyarakat awam, dengan kelengkapan fasilitas sebuah smartphone orang terdidikpun bisa dikelabui bahkan para pejabat yang bermasalah yang bisa kita ketahui dari pemberitaan media tak jarang jadi sasaran orang-orang yang mengatasnamakan “KPK, Kejaksaan, Kepolisian bahkan Penasehat Hukum” yang tiba-tiba “menawarkan solusi disertai penekanan” Kita masih ingat kasus panggilan dan sprindik KPK yang ternyata palsu, atau komunikasi BBM antara “pimpinan sebuah parpol dengan orang kepercayaannya” yang meminta seorang calon Gubernur menyetor dana milyaran yang ternyata hanya rekayasa seorang pengangguran. Tujuan semua itu jelas, penipuan!

Tidak hanya kejahatan penipuan yang bisa dilakukan dengan pemanfaatan teknologi. Kejahatan terstrukturpun sering kita dengar umpamanya komunikasi BBM antara Angelina Sondakh dengan Rosalina Mindo Manulang tentang suap Wisma Atlet Jakabaring Palembang atau komunikasi Freddy Budiman yang memproduksi narkoba dari Lapas Cipinang dengan antek-anteknya termasuk Anggita Sari dan Vanny Rosyane yang menjadi pacar Freddy Budiman semuanya memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi.

Pendek kata, menyikapi perkembangan era teknologi dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat adalah kembali kepada penggunanya, apakah akan seperti sebilah pisau di tangan seorang Chef atau seorang preman. Dari “mama minta pulsa” sampai ke Sprindik KPK, itu hanya sebagai perumpama nyata dari sebuah keadaan yang terjadi belakangan ini.

The Man Behind The Gun
The Man Behind The Gun

Pepatah mengatakan “the man behind the gun” semakin canggih teknologi akan semakin bermanfaat bagi masyarakat jika dipakai dengan benar di tangan yang benar, sebaliknya akan menjadi malapetaka jika digunakan dengan tidak benar di tangan yang tidak benar. (ison subekti)

Ison Subekti

Latest posts by Ison Subekti (see all)

Comments

comments