Anak dan majunya teknologi game – Di zaman ini permainan konsol canggih bukan suatu hal yang sulit ditemukan, hampir disetiap sudut kota, dan bahkan di desa-desa sudah mulai menjamur, entah itu Playstation, Xbox, ataupun Game Online. Orang Dewasa, Remaja, dan bahkan anak kecil pun menyukainya. Dengan alasan mengobati kebosanan, stres, dan mengisi waktu luang.

Di terima atau tidak, game saat ini lebih cenderung disukai anak-anak, karena pada dasarnya anak-anak memang suka bermain terlebih perangkat komputer yang tersedia permainan. Minimnya pengawasan orang tua dalam mengawasi anak-anaknya dalam perkembangan dunia game saat ini merupakan hal yang berbahaya yang seharusnya menjadi peringatan para orang tua.

Banyaknya konten-konten negatif dalam game seperti: kekerasan, pornografi, akan membuat anak-anak yang dalam proses pembentukan otak mereka akan diracuni konten negatif dalam game tersebut. Sayangnya lagi, akses porno ini bisa dilihat dari handset pintar saat ini.

Ilustrasi Anak dan Majunya Teknologi Game
Ilustrasi Anak dan Majunya Teknologi Game

Selain minimnya pengawasan, anak-anak yang sering atau ketagihan bermain game adalah buruknya interaksi antara orang tua dan anak. Misalnya, orang tua terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, jarang dirumah bersama anak karena harus berkerja ke luar kota, masalah pekerjaan di bawa kerumah sehingga anak yang terkena imbas dari masalah orang tuanya sendiri itu juga bisa membuat sang anak akan mencari kesenangan sendiri.

Dari sikap orang tua yang jarang dirumah, sadar atau tidak akan ditiru oleh sang anak, mereka anak lebih suka bermain di luar rumah daripada berkumpul, bermain dan belajar bersama orang tua di rumah.

Tapi saat ini kejadian-kejadian seperti ini malah dianggap biasa. Orang tua menganggap anak yang sudah berani bermain diluar tanpa harus ditunggu dan diawasi orang tua itu sudah mandiri. Padahal di usia anak (7-12 tahun), anak masih sangat membutuhkan bimbingan dan pengawasan orang tua, karena di usia tersebut anak masih mudah dipengaruhi hal-hal yang negatif dari lingkungan.

Lingkungan sangat penting bagi pertumbuhan watak dan kebiasaan sang anak. Apalagi lingkungan lingkup keluarga, lingkungan pertama yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu pertama, tempat berkeluh kesah sang anak pada saat mengalami masalah.

Dikarenakan tidak adanya pengawasan orang tua, anak sering kali mencoba hal-hal yang baru, kita ambil contoh disini game itu tadi. Mudahnya akses, longgarnya pengawasan, banyak game-game yang dimainkan oleh anak-anak yang belum cukup umur untuk memainkannya.

Di zaman ini game perangkat elektronik berbasis edukasi kalah dengan game yang berbasis peperangan/kekerasan. Karena game edukasi dikemas dengan visualisasi yang buruk dan anak sudah di doktrin untuk malas belajar. Game peperangan/kekerasan dengan didukung visualisasi yang baik tentunya lebih disukai anak, karena bisa meluapkan emosi saat menang, dan bisa mengumpat sesukanya saat kalah.

Banyak kita temui warnet-warnet Game Online dimana para Gamernya adalah anak-anak, dan warnet tersebut bukan cuma anak-anak yang bermain tapi remaja sampai orang dewasa pun ada, kesukaan orang dewasa saat mengumpat ketika kalah bermain akan mudah ditiru oleh anak-anak disekitarnya, karena merasa mantep atau lega saat mengumpat ketika kalah bermain.

Tapi disisi lain keseringan mengumpat, dan tentu saat mengumpat itu yang keluar adalah kata-kata kasar. Dari kebiasaan itu tadi akan mendidik anak berkata kasar pada sipapun. Dan kebiasaan ini tentu karena kurangnya pengawasan dari orang tua. Harunya perilaku-perilku buruk tersebut menjadi peringatan kepada orang tua untuk lebih mengontrol dan membimbing anak ke jalan yang lebih baik.

Meningkatkan pengawasan terhadap anak mutlak perlu, karena orang tua adalah guru pertama anak sebelum masuk sekolah. Jam dirumah dengan jam disekolah lebih banyak dirumah harus dimanfaatkan orang tua untuk mendidik dan mengawasi anak. Dengan memberi sebagain pekerjaan rumah pada anak, belajar bersama dengan anak, rekreasi bersama anak, akan menanggulangi anak mencari kesenangan diluar rumah yang bisa membuat perilaku anak menjadi buruk.

Pendidikan rohani anak juga mutlak diperlukan untuk mendidik budi pekerti dalam diri anak, memberi pelajaran berbakti kepada orang tua, memberi penjelasan bagaimana memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Agar anak tumbuh menjadi pribadi yang modern tapi juga berbudi pekerti yang baik.

Adziz Nur Ahyana

Latest posts by Adziz Nur Ahyana (see all)

Comments

comments