Smartphone-Sebagai-Media-E-Commerce
Smartphone-Sebagai-Media-E-Commerce

Peningkatan jumlah pengguna smartphone (kunjungi: http://www.pricearea.com/harga/handphone/handphone) pada 2 tahun terakhir ini sebagai bukti meningkatnya keingintahuan masyarakat dunia akan perkembangan teknologi. Malah smartphone sudah bukan hal yang mewah lagi, tapi menjadi gaya hidup modern. Indonesia termasuk salah satu negara di dalamnya yang makin ingin melek teknologi.

Situasi tersebut jelas akan mempengaruhi jumlah pengguna internet. Bila di tahun 2012 ada 55 juta pengguna, di tahun 2015 nanti diperkirakan akan mencapai angka 125 juta, yang kebanyakan akses internet melalui smartphone. Tak heran bila pada 2015 total belanja online di Indonesia diperkirakan akan meningkat jadi US$ 10 miliar. Dari mobile web, sarana berbelanja online kini telah berkembang menjadi aplikasi mobile, sehingga memudahkan pelanggan dalam mengakses situs di mana saja.

Walau sudah berkembang drastis, tapi total belanja iklan digital dan mobile di Indonesia yang sebesar US$ 240 juta pada tahun 2013, nyatanya masih termasuk yang terendah di kawasan Asia-Pasifik. Supaya bisa bertahan di persaingan regional dan selalu bisa mengikuti kebutuhan konsumen, pihak peritel dan pengiklan perlu melakukan strategi. Teknologi mobile ialah media pemasaran yang paling tepat untuk program ini. Simaklah 5 strategi menjaring konsumen e-commerce via mobile berikut:

1. Menciptakan Pengalaman Personal

Buatlah iklan yang langsung menuju pengalaman personal konsumen. Ketika mereka melihat iklan produk yang sesuai serta disampaikan pada waktu dan platform yang tepat, mereka lebih cenderung untuk membeli produk dan bertahan menjadi pelanggan setia.

Agar lebih sederhana dan efektif, pihak peritel bisa membuat solusi analisis yang kuat dan mampu melakukan konsolidasi data pelanggan. Sebagai langkah pertama, Anda bisa melakukan survey lebih dulu untuk menyesuaikan iklan yang bersifat personal dalam upaya memenuhi kebutuhan dan kebiasaan konsumen. Setelah itu, ambil target iklan online pada konsumen yang tepat untuk mengoptimalkan anggaran yang tersedia.

 

2. Menjalin Hubungan dengan Konsumen Melalui Aplikasi Mobile

Tidak ingin tertipu dari aplikasi mobile yang banyak dijumpai, konsumen akan terus mencari pengalaman belanja yang terintegrasi. Sebuah studi oleh PwC mengatakan mulanya mereka akan memeriksa harga dan ulasan tentang toko konvensional yang menyediakan pertemuan langsung antara penjual dan pembeli.

Studi serupa bahwa konsumen juga belanja dari aplikasi mobile yang tidak terafiliasi sambil melihat produk yang sama di pusat perbelanjaan konvensional. Agar terhindar dari pembajakan pendapatan oleh aplikasi mobile semacam itu, para peritel dan pengiklan wajib mempertimbangkan untuk berinvestasi pada aplikasi merk mereka sendiri dengan mengkombinasikan ‘store mode’.

‘Store mode’ meliputi fitur-fitur seperti tahapan yang paling efisien untuk memenuhi daftar belanja, store map yang dinamis, dan kemampuan untuk menampilkan lokasi produk yang tepat. Hal ini juga memberikan wawasan pada pelanggan untuk para pelaku ritel dan memberikan konten secara personal berdasarkan data akumulasi dari perilaku pembelian di masa lalu, lokasi pembeli di dalam toko, dan daya beli. Pelaku ritel yang seperti ini akan merasakan jalinan hubungan dengan para pelanggan dan mengalami peningkatan penjualan 5 kali lipat. Jalin hubungan dengan konsumen baik online maupun offline ketika mereka sedang dalam proses mengambil keputusan pembelian, sehingga dapat meningkatkan kemungkinan konsumen untuk membeli produk langsung dari merek tersebut.

 

Belanja-Online-Lewat-Smartphone
Belanja-Online-Lewat-Smartphone

3. Menjangkau dengan Kemampuan Real-Time

Miliki alat berkemampuan real-time dan didukung oleh predictive software algorithms yang memungkinkan alat ini berpikir dan bertindak atas nama pengiklan serta menampilkan rekomendasi produk yang paling relevan secara intuitif. Hal ini dilakukan bekerja dengan memberikan kinerja display ads yang terpersonalisasi melalui pemberian data yang real-time melalui iklan online atau iklan in-app banner yang sebelumnya telah dibeli. Kinerja real-time memungkinkan para pemasar untuk menjangkau pengunjung selama merk tersebut masih menjadi yang paling dicari konsumen.

 

4. Mengaplikasikan Pendekatan yang Terintegrasi

Search marketing adalah sebuah proses untuk mendapatkan tingkat perputaran dan visibilitas mesin pencari, baik berbayar ataupun tidak. Ini telah menjadi cara yang paling hemat dan efektif bagi pemasar untuk menghasilkan penjualan dan pelanggan baru. Namun, 15 tahun pertumbuhan di industri telah menciptakan kejenuhan pasar yang signifikan, dimana investasi tambahan dalam search marketing sering tidak memberikan return yang sesuai. Selain itu, konsumen hanya menghabiskan 5% dari waktu pencarian online mereka dan hanya 13 % pengguna online yang pada hari tertentu melakukan permintaan pencarian terkait dengan belanja.

Untuk hasil terbaik dalam meningkatkan pembukaan pengguna smartphone terhadap merek tertentu, kampanye iklan harus digabungkan dan dioptimalkan pada search dan display dalam berbagai perangkat mobile. Munculnya iklan performance display yang terpersonalisasi telah memberikan pemasar sebuah cara untuk menjangkau konsumen, bahkan ketika mereka tidak menggunakan mesin pencari. Penelitian dari Criteo telah menunjukkan bahwa ketika iklan performance display digabungkan dengan search marketing, frekuensi pencarian yang berhubungan dengan permintaan belanja meningkat sebanyak 28 %.

 

5. Menciptakan Hasil yang Terukur dan Memiliki Hubungan dengan Bisnis

Selain mengumpulkan informasi tentang pilihan pelanggan dalam menjelajah dunia online, pemasar juga penting untuk memiliki proses yang efektif dalam mengevaluasi tingkat ROI terhadap strategi iklan. Pengukuran top-line seperti jumlah tayangan dan klik tidak dapat mengukur tingkah laku pelanggan sebelum melakukan pembelian. Sebuah studi global oleh Fournaise melaporkan bahwa 58% dari pemasar hanya fokus pada ‘likes’ dan ‘klik’ ketika mengukur tingkat ROI terhadap biaya pemasaran yang telah dikeluarkan. Padahal mereka juga harus memperhatikan metrik dalam memberikan wawasan yang lebih dalam, seperti average order values dan tingkat konversi.

Keduanya memungkinkan pemasar untuk melakukan segmentasi pelanggan online ke kategori yang berbeda-beda berdasarkan berapa banyak waktu yang mereka habiskan ketika mengunjungi situs Anda. Melalui alat analisis data yang tepat, pemasar dapat menguji strategi iklan mobile pada tingkat granular untuk melihat apakah iklan mereka dapat menarik para pelaku online, mengubah pelaku online untuk meng-klik iklan pemasar, dan akhirnya mengajak mereka menjadi pelanggan.

Pemanfaatan media mobile belum berjalan maksimal, sebab masih banyak yang menganggapnya belum sesuai sebagai saluran pemasaran. Faktanya, berdasar studi dan statistik yang ada menunjukkan kalau tren smartphone akan tetap bertahan dan tidak ada tanda-tanda penurunan. Mumpung masih booming, inilah waktu yang tepat untuk peritel dan pengiklan menjalankan 5 strategi menjaring konsumen e-commerce via mobile. Ikuti terus perkembangan dunia e-commerce dalam info-info yang tersedia di http://artikel.pricearea.com/category/e-commerce-news/.

Comments

comments